Selasa, 02 April 2013

LAMBANG PUISI



KATA BERMAKNA LAMBANG DALAM PUISI

Alat unutk menyampaikan persaan penyair dalam puisi adalah bahasa. Bahasa tersebut berupa rangkaian kata. Kata-kata tersebut adalah yang bermakna lugas, kias, atau lambang.
Lambang ialah menggunakan kata-kata tertentu untuk melambangkan sesuatu yang murup sifatnya. Misalnya bunga melambangkan kecantikan/gadis, api lambang kemarahan, dan baja lambang kekuatan atau ketangguhan.
Contoh:
Pada-Mu Jua
Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku pada-Mu
Seperti dahulu
Kaulah kendil gemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu
Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayap
Hanya kata merangkai hati
Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas
Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang pada-Mu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai
…..

Kata kandil dan pelita melambangkan petunjuk ke jalan yang benar bagi ornag yang dalam kesesatan (gelap). Kelompk kata dara di balik tirai melambangkan suatu keinginan kuat unuk mengenal tuhan lebih dekat karena selama ini masih belum dipahami benar.

Please Say It Mom



http://th04.deviantart.com/fs5/300W/i/2004/292/c/e/Naruto_Memorial_Project_Mother_by_wredwrat.jpgPlease Say It Mom !
(KARYA DEWI ANDINI)
Pagi tiba, matahari dari ufuk timur menerangkan hariku ini, burung – burung berkicauan seolah memberitahuku bahwa pagi telah tiba. Tapi, entah kenapa aku seolah tak ingin lagi membuka kedua bola mataku ini. Ku lihat foto ibu dan ayahku yan berada di posisi meja belajarku. Ingin rasanya ku bakar foto itu hingga ku dapat melupakan mereka. Tapi apa daya, ini bukanlah hal yang terbaik yang harusnya aku lakukan, karena mereka tetaplah orang tuaku apapun itu yang terjadi.
                Kubuka pintu kamar, terdengar suara bising dari ruang keluargaku. Ternyata, itu hal yang biasa terjadi. Lagi – lagi kedua orang tuaku bertengkar. Ingin rasanya aku ikut campur dengan apa yang sedang mereka debatkan. Tentang apa, kenapa, dan ada apa itu semua ingin ku utarakan kepada mereka berdua. Aku menderita, aku terlampau sedih melihat ini terjadi. Seolah – olah tak ada keharmonisan yang terjadi di rumah tangga kedua orang tuaku ini.
                Sahabatku rini selalu menjadi tempat keluh kesahku saat ini. Hanya dia tempatku berbagi suka dan duka. Dia adalah sahabat terbaikku kala ini dan aku berharap kelak pun begitu. Setiap kali mendengar nasehat yang dilontarkan dari mulut rini, senyum terlintas pun menghiasi raut pipi dinda kala itu. Terlintas pun, ia terlupa dengan keadaan ayah dan ibunya. Ayah dan ibu dinda orang yang sama – sama mempunyai kedudukan yang tinggi dalam perusahaan swasta yang berbeda. Hingga terkadang kedua orang tuanya selalu sibuk dengan urusan pekerjaan yang juga terlupa tentang urusan anak semata wayangnya yang saat ini berada di kelas 3 SMP.
                ‘ Tuhan … Izinkanlah aku untuk berkata kepada ibuku, kepada ayahku untuk menghentikan kekacauan di dalam rumah ini… Tuhan … Berikan aku kesempatan untuk membahagiakan mereka Tuhan . Izinkanlah aku untuk berkata kepada mereka untuk jangan bertengkar lagi. Masalah apa pun itu Tuhan. Aku butuh belaian kedua orang tuaku. Aku butuh kasih sayang kelembutan tangan belaian kasih dari ibuku. Mengertikan aku Tuhan. Aku tak dapat menopang ini sendirian. Tak puas rasanya jika harus ku ceritakan semua kepada rini sahabatku. Ini terlalu berat untuk ku alami sendirian tanpa rini.’
Anak adalah harta karun yang tiada ternilai harganya. Anak karunia Tuhan yang harus dijaga sebaik – baiknya. Diberi makanan yang bergizi dan halal. Dibesarkan dengan rasa cinta dan kasih sayang dan diberikan pendidikan yang baik serta contoh prilaku yang baik pula. Kelak orang tua telah wafat, mereka pun masih tetap menuai hasil panen berupa doa anak – anaknya. Anak yang saleh selalu mendoakan ayah – ibunya. Jadi, tidak hanya di dunia, diakhirat pun orang tua hidup bahagia. Itu semua hasil dari semua didikan para orang tua pula.
-          Yusuf Mansur
 
Lagi – lagi doa itu selalu diucapkan dinda ketika usai shalat.






                Pagi berlalu menjadi siang, siang pun menjadi sore, tapi kedua orang tuanya tak kunjung menampakkan raut wajahnya kala itu di rumahnya. Merasa jenuh, bosan, dan sedih. Itulah yang dialami dinda. Dinda pergi berjalan – jalan tak jauh dari rumahnya. Melintas dengan menghirup udara sore yang rindang membuat kesedihan pun terlintas terlupakan. Ketika mata tertuju kepada seorang anak seusia dinda yang saat itu berjalan – jalan sore dengan ibunya, membuat berlinang air mata pada mata bulat dinda. Ia bersedih dengan keadaannya. Dia merasakan iri yang luar biasa melihat orang seusianya sangat akrab dengan ibunya. Ingin ia alami dan merasakan hal itu. ‘ andai itu dapat terjadi. Bahagia nya hidupku, tak perlu kekayaan, tapi yang kubutuhkan kebahagiaan’ air mata berlinang tapi tak satu pun tertetes membasahi pipi ini.
                Aku juga butuh kasih sayang mereka. Apa guna nya aku ini hidup jika aku tak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuaku. Menangis, meratapi tak ada artinya dalam hidupku. Semua tak akan berubah jika dari hati mereka tak tersentuh hatinya melihat penderitaan yang ku rasa. Mendekati malam, aku bergegas pulang ke rumah. Ku buka pintu, ku kisari ruangan demi ruangan dalam rumahku. Terasa sunyi sepi dan keheningan dalam rumahku. ‘ayah..ibu.. kalian dimana??’ teriak hati kecilku memberontak karena kesepian. Terkadang aku merasa sangat gembira dan sangat bahagia ketika mereka bersama. Itu saja telah membuatku senang dan merasakan hal yang cukup bahagia dalam hidupku. Tapi, kenapa kebahagiaan itu kini tergores dengan hiasan pertengkaran setiap harinya??
                Yah. Benar. Aku adalah manusia yang sangat menyedihkan. Dilahirkan oleh orang kaya raya. Mau ini ada, mau itu juga tersedia, semua fasilitas yang mewah ada tersedia di dalam rumah ini. Tapi, yang aku butuhkan bukan itu. Percuma saja aku memiliki kemewahan dalam rumah ini, tapi kebahagiaan tak satu pun menghiasi hati ini. Aku tertekan bu, aku tertekan yah.. aku ingin hidup, ingin hidup merasakan udara dengan kalian berdua.
                Sudah bertahun – tahun lamanya aku menahan diri. Aku yang mulai beranjak dewasa tapi, kedua orang tuaku masih saja seperti ini. Akhirnya aku memberanikan diri menanyakan tentang apa yang selama bertahun – tahun ini yang mereka peributkan. Alhasil, aku mendapat sebuah tamparan dari ibuku. Pukulan tangan yang melayang ke pipiku, sangat membuatku merasa lebihh tersakiti.
“ Untuk apa kau pertanyakan hal seperti itu? Ini urusan ibu dan ayahmu. Kau tidak berhak mengetahui itu semua. Lebih baik kau masuk ke kamar, belajar dan tuntut ilmu mu. Jangan urusi urusan orang dewasa.”
 Bentak ibuku. Aku yang hanya bisa terdiam dan meneteskan butiran – butiran air mata mendengar perlakuan ibuku yang tak biasa nya ia lontarkan sekeras itu.
                Bu, aku ini anakmu… katakan sekali saja bahwa aku ini anakmu dan katakana sekali saja bahwa kau menyayangi aku’. Sambil merintih menangis, dinda mengatakan kata – kata itu. Aku mohon bu, mengertilah aku. Mengertilah posisi ku. Aku anak kecil yang tumbuh dengan amat cepat belajar dewasa dengan pemikiran yang sangat begitu menyulitkan di usiaku kini. Katakana itu bu, aku mohon… bahwa ibu sangat sayang kepadaku.

Allah Zat Yang Maha membolak balikkan hati manusia. Amarah dapat padam karena iman. Amarah dapat hilang karena terbasuh air wudhu. Amarah pun bisa lenyap dengan beristigfar.
-          Reza Purwanti
 
 
               


Tiga bulan kemudian, semakin hari raut wajah dinda semakin pucat. Rambutnya pun kian hari semakin menipis saja. Rini sangat mengkhawatirkan mengenai dinda kala itu. Saat jam pelajaran tiba, tetesan darah dari hidung membasahi buku tulis dinda.
                ‘Tuhan, jangan biarkan ini terjadi. Aku belum melihat dan membuat kedua orang tuaku merasa baikan. Tolong jangan biarkan ini terjadi.’
Ucap dalam hati. Terlihat tetesan darah itu oleh rini.
                   “ ya ampun din, kamu dari tadi udah ku lihatin pucat sekali. Sekarang hidungmu mengeluarkan darah. Tidak hanya itu, rambut mu yang dulu lebat, kenapa akhir – akhir ini menipis din? Kamu sakit?”
                   “Serius rin, aku sehat saja kok. Aku hanya demam sedikit rin. Udah deh, kamu jangan cemas ampe gitunya deh. Emmm… tapi, makasih rin udah mau perduli sama aku selama ini.”
                Terlihat wajah tak tega dan sedih dalam raut wajah rini terhadap apa yang di rasakan oleh dinda sahabat sejatinya itu. Sambil menatap raut wajah sahabat nya dinda, dalam hati berkata.
                   ‘Tuhan , tegarkan anak ini, berikan kebahagiaan sejati untuknya. Sehatkanlah dia. Jangan sampai hati dan tubuhnya merasakan sakit yang membara’.
                Sepulang sekolah rini bercerita kepada ibunya, mengenai dinda yang pada akhir – akhir ini terlihat tak sehat. Karena ibu rini adalah dokter spesialis penyakit dalam, semua ciri – ciri yang ada pada dinda pun di tanyakan semua kepada ibunya. Ternyata dinda mengalami penyakit yang begitu serius. Ia di diagnose mengalami leukemia akut, yaitu penyakit yang berkembang biak secara ganas di dalam sumsum tulang atau kelenjar limfa, yang kemudian menyebar ke bagian tubuh yang lain. Ini sering sekali disebut dengan kanker darah.
                “ bu, apakah ada alternative yang baik untuk mengobati kesembuhan penyakit dinda?” Tanya rini dengan tatapan linangan air mata menatap ibu nya.
                     ya, tentu ada. Walaupun biaya yang akan dikeluarkan tidak sedikit. Insyaallah, jika Tuhan menghendakinya, penyakit yang diderita dinda pasti dapat terobati. Dia harus melakukan kemoterapi dan menggunakan obat – obatan. Jika alternative itu pun tak dapat di cegah maka dia harus menjalankan terapi sinar, atau terapi biologi. Bahkan dia juga bisa melakukan alternative terakhir yaitu operasi transflasi sum – sum tulang belakang. Jelas ibunya kembali.
                Mendengar perkataan ibunya tadi, rini pun meneteskan air mata sedihnya terhadap penderitaan yang dialami sahabat sejatinya itu. Berat sudah beban yang dialami dinda.
LLL
                Keesokan harinya, dinda pun dikabarkan tidak dapat masuk dan belajar di kelas seperti hari – hari biasanya. Mulai tampak gelisah rini melihat dinda yang hampir 1 minggu tak masuk sekolah. Rini pun merasakan ke khawatiran yang luar biasa mengenai sahabatnya itu. Sepulang sekolah ia pulang menuju rumah dinda yang jaraknya tak jauh dari komplek perumahan rini. Terus dan terus ia mengetuk pintu yang tak dikunci dan tampak tak berpenghuni itu. Tanpa ragu – ragu rini masuk dan tak lupa mengucapkan kata permisi saat ia memasuki rumah itu. Lalu, ia masuk menuju pintu kamar dinda. Dilihatnya, dinda yang sedang tekapar di dalam kamarnya dengan wajah pucat, di pegangnya rambut dinda yang lusuh dan rontok yang kian menipis itu.
                “ dinda… bangun… aku mohon sebagai sahabatmu… aku mohon bangun dinda..”
Teriak dan menangis nya rini di pelukan dinda. Segera rini menghubungi ibunya untuk membawakan ambulans ke rumah dinda. Segera rini menghubungi ibunya untuk membawakan ambulans ke rumah dinda. Ternyata, saat dinda telah sampai di rumah sakit dan sampel darah sudah di ambil. Dinda mengalami leukemia yang sudah parah sekali. Pahit sekali dengan apa yang telah ia rasakan kini.
                Berulangkali rini memohon supaya ibunya dapat menangani penyakit yang diderita dinda. Ternyata alternative yang akan di jalani dinda sementara waktu ini adalah kemoterapi. Dengan sekuat tenaga ibu berusaha untuk menyembuhkan dinda agar kembali menyadarkan dirinya. Tak tega ibu melihat anak nya meneteskan air mata dan meminta demi kebaikan sahabatnya sendiri, ibu pun mengizinkan permintaan anaknya itu. Dengan raut wajah bersedih rini memasuki kamar ruang rawat yang ditempati dinda. Sambil memegang tangan dinda ia menangis tanpa henti. Bercerita akan masa lalu tentang mereka sewaktu kecil. Dan tiada hentinya rini memuji dinda yang sangat hebat untuk menguatkan hatinya dalam semua masalah berat yang dialami oleh orang seusia dia. Tak gentar hati, dan selalu tabah itulah dinda yang selama ini aku kenal. Dalam setiap ulang tahunnya yang dialami nya satu yang menjadi harapan itu sampai pada saat ini pun tak pernah terwujud untuk itu. Yaitu, kasih sayang yang tulus dari belaian tangan seorang ibu dan kasih sayang ayah. Dia anak yang dewasa, mandiri itu yang aku banggakan dari sahabatku dinda.
LLL
                Sudah seminggu lebih dinda mengalami koma. Namun, batang hidung kedua orang tua dinda pun tak kunjung datang melihat putrinya yang sedang terkapar di rumah sakit ini. Berulangkali ibuku memberitahukan kedua orang tua dinda. Namun, mereka hanya dapat membalas pesan singkat kepada ibuku.
                ‘ tolong jaga anak ku sampai dia sadar dan pulih kembali. Tolong rawat dia dengan setulus hati. Saya tak dapat menemaninya saat ini, dikarenakan urusan pekerjaan yang begitu sangat penting.’
Ternyata, bagi mereka pekerjaan lebih penting dari kesehatan anak.
                Keesokan harinya, dinda pun sadar. Namun, ketika tak lama kondisinya membaik. Dinda memberikan tanda – tanada buruk mengenai penyakitnya. Ibuku pun sigap mengatasi.
                “ tak ada cara lain selain melakukan transplasi sum – sum tulang belakang, kemoterapi tidak dapat menjamin kembali dinda untuk selamat dari penyakitnya itu.” Ucap ibuku.
Aku harus terus menerus menghubungi kedua orang tua nya agar dapat memberikan sum – sum tulang belakangnya untuk dinda putrinya. Tapi, nomor mereka tak dapat dihubungi terus menerus. Akhirnya, aku mencoba mencocokan darahku kepada dinda. Namun, sia – sia. Aku tak bisa melakukan itu semua untuk dinda.
                Semakin hari, kondisi dinda semakin memburuk. Aku sangat terpukul dan sangat sedih melihat kondisi dinda seperti ini. Tiga hari berlalu. Nafas serta selang – selang yang di tempelkan di sekujur tubuh dinda tak dapat menolongnya lagi. Tanpa ku sadari, tangannya menggenggamku, pipinya dibasahi tangisannya, dan berkata tersendak – sendak.
                ‘ rini, sampaikan kepada ibuku bahwa aku ingin mendengar bahwa ibuku sayang kepadaku.’
                Setelah dinda mengatakan itu. Semua hening. Detak jantung dinda pun terhenti. Aku menangis dalam ruangan itu.
                “dinda…. Jangan tinggalin aku. Aku mohon jadilah sahabat terbaikku untuk selamanya.”
                Setelah kematian dinda, orang tuanya pun mendengar kabar itu. Bergegas mereka meminta maaf kepada dinda. Tak lupa ku katakan pesan terakhir dinda yang diucapkannya kepada ku untuk kedua orang tuanya.
                “maafkan ibu nak, ibu yang selalu tak pernah memahamimu, memperdulikanmu. Ibu sayang dinda.”
                Mengetahui keadaan itu, mereka mengetahui betapa pentingnya kasih sayang mereka terhadap seorang anak. Dan aku pun tak pernah lupa akan peran dinda sebagai sahabat sejatiku. Walaupun ia kini telah tiada. Aku akan selalu ada untuknya.

The end
               
                  















Created by :
Nama                    : Dewi Andini
Panggilan             : Andini
Alamat                  : Jl. Insp. Yazid aspol km 2,5 Blok D.3 Palembang
Email                     : andinijs@yahoo.co.id
Nim                        : 2011112225
Semester            : 3 (TIGA) / E

CITRAAN DALAM PUISI

CITRAAN DALAM PUISI

Untuk memberikan gambaran yang jelas, untuk menimbulkan suasana, untuk membuat lebih hidup dan menarik, dalam puisi penyair juga sering menggunakan gambaran angan. Gambaran angan dalam puisi ini disebut citraan (imagery)
Citraan atau pengimajian adalah gambar-gambar dalam pikiran, atau gambaran angan si penyair. Setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji (image). Gambaran pikiran ini adalah sebuah efek dalam pikiran yang sangat menyerupai gambaran yang dihasilkan oleh penangkapan kita terhadap sebuah objek yang dapat dilihat oleh mata (indera penglihatan). Citraan tidak membuat kesan baru dalam pikiran.
Jenis/macam citraan (imaji)
1.   Citraan penglihatan (visual imegery)
Citraan penglihatan adalah citraan yang ditimbulkan oleh indera penglihatan (mata). Citraan ini paling sering digunakan oleh penyair. Citraan penglihatan mampu memberi rangsangan kepada indera penglihatan sehingga hal-hal yang tidak terlihat menjadi seolah-olah terlihat.
Contoh:
Nanar aku gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara dibalik tirai
(Amir Hamzah, Padamu Jua)
2.   Citraan pendengaran (auditory imagery)
Citraan pendengaran adalah citraan yang dihasilkan dengan menyebutkan atau menguraikan bunyi suara, misalnya dengan munculnya diksi sunyi, tembang, dendang, dentum, dan sebagainya. Citraan pendengaran berhubungan dengan kesan dan gambaran yang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga).
Contoh:
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
(Chairil Anwar, Sajak Putih)
3.   Citraan perabaan (tactile imagery)
Citraan perabaan adalah citraan yang dapat dirasakan oleh indera peraba (kulit). Pada saat membacakan atau mendengarkan larik-larik puisi, kita dapat menemukan diksi yang dapat dirasakan kulit, misalnya dingin, panas, lembut, kasar, dan sebagainya.
Contoh:
Kapuk randu, kapuk randu!
Selembut tudung cendawan
Kuncup-kuncup di hatiku
Pada mengembang bermerkahan
(WS Rendra, Ada Tilgram Tiba Senja)
4.   Citraan penciuman (olfactory)
Citraan penciuman adalah citraan yang berhubungan dengan kesan atau gambaran yang dihasilkan oleh indera penciuman. Citraan ini tampak saat kita membaca atau mendengar kata-kata tertentu, kita seperti mencium sesuatu.
Contoh:
Dua puluh tiga matahari
Bangkit dari pundakmu
Tubuhmu menguapkan bau tanah
(WS Rendra, Nyanyian Suto untuk Fatima)
5.   Citraan pencecapan (gustatory)
Citraan pencecapan adalah citraan yang berhubungan dengan kesan atau gambaran yang dihasilkan oleh indera pencecap. Pembaca seolah-olah mencicipi sesuatu yang menimbulkan rasa tertentu, pahit, manis, asin, pedas, enak, nikmat, dan sebagainya.
Contoh:
Dan kini ia lari kerna bini bau melati
Lezat ludahnya air kelapa
(WS Rendra, Ballada Kasan dan Patima)
6.   Citraan gerak (kinaesthetic imagery)
Citraan gerak adalah gambaran tentang sesuatu yang seolah-olah dapat bergerak. Dapat juga gambaran gerak pada umumnya.
Contoh:
Pohon-pohon cemara di kaki gunung
pohon-pohon cemara
menyerbu kampung-kampung
bulan di atasnya
menceburkan dirinya ke kolam
membasuh luka-lukanya
(Abdulhadi, Sarangan)
Selain citraan di atas, ada pula ahli sastra yang menambahkan jenis citraan lain, yaitu:
1.   Citraan perasaan
Puisi merupakan ungkapan perasaan penyair. Untuk mengungkapkan perasaannya tersebut, penyair memilih dan menggunakan kata-kata tertentu untuk menggambarkan dan mewakili perasaannya itu. Sehingga pembaca puisi dapat ikut hanyut dalam perasaan penyair.
Perasaan itu dapat berupa rasa sedih, gembira, haru, marah, cemas, kesepian, dan sebagainya.
Contoh:
Alangkah pilu siutan angin menderai
Mesti berjuang menghabiskan lagu sedih
Kala aku terpeluk dalam lengan-lenganmu
Sebab keinginan saat ini mesti tewas dekat usia
(Toto Sudarto Bachtiar, Wajah)
2.   Citraan intelektual
Citraan intelektual adalah citraan yang dihasilkan oleh/ dengan asosiasi-asosiasi intelektual.
Contoh:
Bumi ini perempuan jalang
yang menarik laki-laki jantan dan pertapa
ke rawa-rawa mesum ini
dan membunuhnya pagi hari
(Subagio Sastrowardoyo, Dewa Telah Mati)
Contoh puisi yang banyak mengandung citraan terlihat berikut ini.
DUKA CITA
Yang memucat wajahnya
merenungi kelabu dinding kamar
yang ditinggal mati penghuninya
sedang di luar
anjing terdiam
tak melihat kupu terbang
menjatuhkan madu di lidahnya
yang terasa getir
Angin tidak bekerja
ranting pohonan merunduk
menyesali daun kering yang terlepas
waktu perempuan berkerudung hitam
melangkah di atas daunan
berisik, menyayat hati burung
yang pecah telurnya
Tangan-tangan gadis
yang pucat mukanya
diam-diam meronce melati
sambil mengusap air mata
Di  ujung desa
jenazah sedang di sucikan
(Kuntowijoyo)

pencitraan puisi



PENCITRAAN PUISI

Citraan disebut juga imaji. Citraan Adalah penggambaran mengenai objek berupa kata, frase, atau kalimat yang tertuang di dalam puisi atau prosa. Citraan dapat berarti  efek yang ditimbulkan oleh kata atau susunan kata dalam puisi terhadap pancaindera manusia. Citraan dimaksudkan agar pembaca dapat memperoleh gambaran konkret tentang hal-hal yang ingin disampaikan oleh pengarang atau penyair. Dengan demikian, unsur citraan dapat membantu kita dalam menafsirkan makna dan menghayati sebuah puisi secara menyeluruh.

Pada hakikatnya, permasalahan citraan atau pengimajinasian masih berkaitan dengan diksi. Artinya, pemilihan terhadap kata tertentu akan menyebakan daya bayang pembaca terhadap suatu hal. Daya bayang (imaji) pembaca tersentuh, karena dari beberapa indera dipancing untuk segera membayangkan sesuatau leawat daya bayang yang dimilki pembaca. Daya bayang ini tentu saja tergantung kepada kemampuan masing-masing pembaca.

Jenis Citraan dibagi menjadi 7, yakni:

1.    Citraan penglihatan, yaitu citraan yang ditimbulkan oleh indera penglihat (mata). Citraan ini dapat memberikan ransangan kepada mata sehingga seolah-olah dapat melihat sesuatu yang sebenarnya tidak terlihat.

misalnya:

Sepasang mata biji sangat

Tajam tangannya lelancip gobang

2.    Citraan pendengaran, yaitu citraan yang ditimbulkan oleh indera pendengar (telinga). Citraan ini dapat memberikan ransangan kepada telinga sehingga seolah-olah dapat mendengar sesuatu yang diungkapkan melalui citraan tersebut.

misalnya:

Bersuara tiap kau melangkah

Mengerang tiap kau memandang

3.    Citraan perabaan, yaitu citraan yang melibatkan indera peraba (kulit), misalnya kasar, lembut, halus, basah, panas, dingin, dll.

misalnya:

Teraba nadiku makin bernafsu sangat cemas

Dan pelahan mengutus datang hari-hari mati

4.    Citraan penciuman, yaitu citraan yang berhubungan dengan indera pencium (hidung). Kata-kata yang mengandung citraan ini menggambarkan seolah-olah objek yang dibicarakan berbau harum, busuk, anyir, dll.

misalnya:

Bau tubuhnya murni

Bagi bau rerumputan

5.    Citraan pencecapan, yaitu citraan yang melibatkan indera pencecap (lidah). Melalui citraan ini seolah-olah kita dapat merasakan sesuatu yang pahit, asam, manis, kecut, dll.

misalnya:

Lidahku telang mengecap

Kesat selera mau

6.    Citraan gerak, yaitu citraan yang secara konkret tidak bergerak, tetapi secara abstrak objek tersebut bergerak.

misalnya:

Pohon-pohon cemara menyerbu kampung-kampung

Bulan menceburkan dirinya ke kolam

7.     Citraan perasaan, yaitu citraan yang melibatkan hati (perasaan). Citraan ini membantu kita dalam menghayati suatu objek atau kejadian yang melibatkan perasaan.