KATA
PENGANTAR
Puji syukur penulis menghanturkan
kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya lah,
penulis dapat menyusun dan menyelesaikan makalah Pengajaran Sastra ini tepat
pada waktunya.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Bapak Agus Heru,M.Pd. selaku dosen
pengasuh mata kuliah Pengajaran
Sastra yang telah membantu dalam melancarkan tugas kelompok
ini. Serta teman – teman yang telah membantu
dan memberikan masukan kepada
penulis dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari
bahwa dalam penyususnan
laporan ini, masih terdapat kekurangan.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dan bermanfaat dari
para pembaca agar dalam pembuatan rangkuman
ini akan dapat lebih sempurna dan baik lagi.
Palembang, February
2013
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar...................................................................................
i
Daftar Isi..............................................................................................
ii
BAB I : PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang....................................................................
iii
1.2
Rumusan Masalah...............................................................
iii
BAB II : PEMBAHASAN
2.1 Mempelajari Pengajaran Drama..........................................
1
2.2 Mempelajari Penulisan Kreatif............................................
4
BAB III : KESIMPULAN ................................................................ 8
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Pengajaran drama
dari mata pelajaran Bahasa Indonesia itu akan menyentuh aspek seni peran juga
seni sastra di samping aspek sosial dimana terjadi interaksi bicara antara
seorang siswa (pemain) dengan pemain lainnya. Hal ini menunjukkan suatu wujud
fungsi sosial yang terjadi dalam dialog pada pengajaran mata pelajaran ini.
Dalam skala pertunjukan drama yang lebih luas terkait fungsi sosial itu, Putu
Wijaya (2002:172) mengungkapkan, bahwa suatu pertunjukan itu menyesuaikan
dengan lingkungan atau konteksnya; hubungan peran (perilaku) seniman di
panggung dan di dalam keseharian. Dalam konteks siswa, hubungan sosial yang
terbangun adalah komunikasi dan interaksi antar siswa dan interaksi dengan
gurunya.
1.2
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
mempelajari Pengajaran Drama?
2. Bagaimana
mempelajari penulisan kreatif?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Mempelajari Pengajaran Drama
Pengajaran bahasa memiliki empat keterampilan yakni
keterampilan mendengarkan atau menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan
membaca dan keterampilan menulis. Sebagai perbandingan, Tim Penulis Universitas
Terbuka (lihat, 2008: 3.7-3.8), menyebutkan enam aspek, dalam komponen komponen
kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar, yaitu mendengarkan,
berbicara, membaca, menulis, kebahasaan, apresiasi bahasa dan sastra Indonesia.
Pada aspek berbicara dijelaskan oleh Tim Penulis
tersebut, bahwa kompetensi berbicara adalah kemampuan mengungkapkan gagasan dan
perasaan, menyampaikan sambutan, berdialog, menyampaikan pesan, bertukar pengalaman,
menjelaskan, mendeskripsikan dan bermain peran. Dilihat dari aspek-aspek di
atas, dapat dikemukakan di sini, bahwa keterampilan berbicara sangat bertalian
secara praktis dengan pengajaran drama, dimana pada drama terjalin aktivitas
berbicara antar pemain (siswa) dalam suatu dialog praktis verbal. Dengan
demikian, maka pengajaran drama sangat dibutuhkan dalam pembelajaran Bahasa
Indonesia, terutama demi kepentingan pengembangan keterampilan berbicara. Pengajaran
drama dalam penelitian ini bersumber dari pelajaran Bahasa Indonesia, pada
aspek keterampilan berbicara dengan standar kompetensi yang ingin dicapai yaitu
mengungkapkan pikiran dan perasaan secara lisan dalam diskusi dan bermain
drama, sedangkan kompetensi dasarnya, yaitu memerankan tokoh drama dengan
lafal, intonasi dan ekspresi yang tepat. Hal ini sesuai kurikulum tahun 2006,
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, nomor 22 tahun 2006,
tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah (BSNP, 2006:92).
Pengajaran drama yang dimaksudkan tersebut, lebih
mengarah pada materi pengajaran yang menitik beratkan pencapaian kemampuan atau
keterampilan berbicara pada teknik-teknik lafal, intonasi dan ekspresi yang
dilakukan atau dilakonkan dalam suatu dialog. Mengingat dialog adalah aktivitas
berbicara, maka dialog dapat merupakan sarana aktivitas bagi latihan
keterampilan berbicara siswa dalam mata pelajaran pelajaran Bahasa Indonesia.
Pengajaran
drama dari mata pelajaran Bahasa Indonesia itu akan menyentuh aspek seni peran
juga seni sastra di samping aspek sosial dimana terjadi interaksi bicara antara
seorang siswa (pemain) dengan pemain lainnya. Hal ini menunjukkan suatu wujud
fungsi sosial yang terjadi dalam dialog pada pengajaran mata pelajaran ini.
Dalam skala pertunjukan drama yang lebih luas terkait fungsi sosial itu,
Putu Wijaya (2002:172) mengungkapkan, bahwa suatu pertunjukan
itu menyesuaikan dengan lingkungan atau konteksnya; hubungan peran (perilaku)
seniman di panggung dan di dalam keseharian. Dalam konteks siswa, hubungan
sosial yang terbangun adalah komunikasi dan interaksi antar siswa dan interaksi
dengan gurunya. Komunikasi dalam interkasi itu, menggunakan kemampuan-kemampuan
berbahasa, dalam hal ini keterampilan berbicara, yang dapat dilatih melalui pengajaran
drama.
Dengan demikian drama tidak hanya dipandang sebagai
suatu pertunjukan akan tetapi dapat dimanfaatkan untuk lingkungan pengajaran Bahasa
Indonesia, maupun pengajaran mata pelajaran lain, tentunya. Kreativitas guru memanfaatkan
drama untuk pengajaran IPS misalnya, akan sangat menarik. Konsep-konsep dasar
mengajarkan bahasa dalam model keterampilan berbicara, diketengahkan
Iskandarwassid dan Sunendar (2008:286), sebagai berikut:
a)
berbicara dan menyimak adalah dua kegiatan resiprokal;
b)
berbicara adalah proses berkomunikasi individu;
c)
berbicara adalah ekspresi kreatif;
d)
berbicara adalah tingkah laku;
e)
berbicara dipengaruhi kekayaan pengalaman;
f)
berbicara merupakan sarana memperluas cakrawala;
g)
berbicara adalah pancaran pribadi.
Hal
yang sangat ditekankan dalam komunikasi verbal adalah keterampilan berbicara
dalam interaksi antar siswa yang kelak dimanfaatkan dalam pergaulannya. Karena
itu siswa membutuhkan keterampilan berbicara sejak awal. Seseorang dikatakan
memiliki keterampilan berbicara bila yang bersangkutan terampil memilih
bunyi-bunyi bahasa (berupa kata, kalimat, tekanan dan nada) secara tepat serta
memformulasikannya secara tepat pula guna menyampaikan pikiran, perasaan,
gagasan, fakta, perbuatan dalam konteks komunikasi (Cahyani,2007:5).
Berbicara sebagai ekspresi kreatif dan keterampilan
memilih bunyi-bunyi bahasa yang disebutkan pada kedua pendapat di atas lebih tertuju
pada lafal dan intonasi bicara dalam suatu dialog yang dapat diwujudkan dalam
pengajaran drama. Selanjutnya efektifitas pengajaran drama demi tujuan
pembelajaran Bahasa Indonesia akan ditentukan pada kemampuan menggarapnya
melalui latihan-latihan dengan mertode drill yang diupayakan ke arah
latihan-latihan berbicara yang secara teknik dilakukan pada lafal, intonasi dan
ekspresi. Drama yang dipilih adalah drama anak, sesuai konteks sastra anak,
yang disesuaikan dengan perkembangan intelektual dan emosional anak (Kurniawan,
2009:5).
2.1.1 Contoh Kegiatan
Pengajaran Drama
Pembahasan
tentang pengajaran drama akan berkaitan dengan ihwal drama, drama anak dan
pembelajaran drama di SD. Ihwal drama mengemukakan pengertian drama, drama
sebagai karya seni dan tujuan apresiatif sastra melalui drama. Drama anak akan
menguraikan tentang sastra anak dan batasan tentang drama anak. Naskah yang
dipilih adalah nasakah drama anak yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan
pemahaman anak, memiliki hubungan dengan dunia anak (dunia bermain dan
aktivitas fisik) dan disesuaikan tingkat kematangan pasikologis anak.
Sedangkan pembelajaran drama di SD mengemukakan
kurikulum yang terkait dengan pembelajaran drama, kompetensi dasar dan standar kompetensi
pengajaran drama dan bentuk pembelajaran drama. Dalam aktivitas pengajaran drama,
sekurang-kurangnya terkait tiga kecakapan yang dibutuhkan siswa yakni kecakapan
verbal (bahasa), kecakapan estetik (seni), kecakapan sosial (terjadi dalam
proses interaksi dramatik dalam melakon). Kecakapan verbal sangat penting bagi
kemampuan atau keterampilan bahasa anak. Melalui dialog-dialog yang terdapat
dalam naskah drama, anak belajar mengenal kata dan kalimat percakapan, yang
harus diucapkannya dengan lafal, intonasi dan ekspresi yang tepat.
Dalam kecakapan estetis, siswa mengenal sentuhan-sentuhan
kehalusan, keseimbangan, kesantunan maupun “rasa” yang melatar belakangi
kecakapan berkeindahan baik dalam dialog-dialog maupun dalam akting yang
diperagakannya. Kecakapan sosial; dalam drama terdapat demikian banyak
interaksi, baik interaksi melalui dialog antar pemain maupun respon fisik dalam
bentuk akting. Interaksi antar personal maunpun intern personal yang terjadi
dalam diri pemain, melahirkan bentuk-bentuk kecakapan sosial dalam situasi sosial
yang disengaja sebagai suatu kegiatan pengajaran.
2.2 Mempelajari Penulisan Kreatif
Menulis keratif pada hakikatnya adalah menafsirkan
kehidupan. Melalui karyanya penulis ingin mengkomunikasikan sesuatu kepada
pembaca. Karya kreatif merupakan interpretasi evaluatif yang dilakukan penulis terhadap kehidupan, yang
kemudian direfleksikan melalui medium bahasa pilihan masing-masing. Jadi, sumber
penciptaan karya kreatif tidak lain adalah kehidupan kita dalam keseluruhannya.
2.2.1 Langkah-langkah menceritakan
kembali cerita :
1) membaca secara
keseluruhan isi cerita
2) mencatat tokoh dan
penokohan dalam cerita
3) mencatat latar
atau setting cerita
4) mencatat alur
cerita
5) mencatat gagasan
pokok cerita
2.2.2
Menceritakan Kembali Isi Cerita
1) Mencatat gagasan
pokok cerita
2) Mengetahui
kerangka cerita
3) Menggunakan bahasa
sendiri ketika menceritakan kembali isi cerita
2.2.3
Menceritakan Kembali Isi Cerita (CERPEN)
Cerpen sebagai salah satu hasil karya sastra yang
memiliki unsur intrinsik dan ekstrinsik yang terkandung di dalamnya. Unsur
instrinsik merupakan unsur yang membangun karya sastra yang berasal atau
terdapat dalam karya sastra itu sendiri. unsur intrinsik karya sastra meliputi
tema, amanat, alur, latar, penokohan, sudut pandang, serta gaya bahasa.
Adapun unsur
ekstrinsik merupakan unsur pembentuk karya sastra yang berasl dari luar karya
sastra. Unsur ekstrinsik meliputi latar belakang budaya dan pendidikan
pengarang , adat istiadat daerah, dan sebagainya. Kedua unsur ini bergabung
menjadi satu dalam membangun sebuah cerpen. Dalam menceritakan kembali secara
lisan isi cerpen yang perna kalian baca atau kalian dengarkan, diperlukan
kejelian dan kecermatan terhadap urutan dan motif peristiwa yang terdapat dalam
cerpen serta mengetahui tokoh yang terlibat, serta latar tempat, waktu, dan
suasana yang melatarbelakangi peristiwa tersebut.
Pahami cerpen “
cinta yang tak ada habis-habisnya” berikut
Judul cerpen :
Cinta yang Tak Ada habis-habisnya
Namaku Arini,
aku mempunyai kakak yang bernama ‘Rian’ kami dibesarkan sebagai kakak beradik
selama 13 tahun ,sampai munculnya sebuah fakta yang menyebutkan bahwa aku bukan
adik kandung kak Rian melainkan anak orang lain yang tertukar ketika masih
bayi. Peristiwa tersebut terjadi gara-gara kak Rian yang masih kecil secara
tidak sengaja memainkan label nama dalam ruang bayi di rumah sakit. Akibatnya
aku yang seharusnya berada di keluarga Mahmud, jadi dipelihara oleh keluarga
Herman yang merupakan keluarga berada. Sedangkan adik kandung perempuan kak
Rian, ‘Mitha’ dipelihara oleh keluarga Mahmud yang miskin. Kekeliruan tersebut
tidak sengaja terungkap ketika aku mengalami kecelakaan pada usia 13 tahun.
Begitu terungkap , kehidupan aku dan Mitha berubah total.
Mitha yang akhirnya kembali kepelukan keluarga Herman dan
kak Rian pun dibawa oleh ayah-ibunya ke Perancis. Sedangkan aku ditinggalkan di
Jakarta pun terpaksa membanting tulang untuk menyambung hidup. Walaupun begitu
waktu dan jarak ribuan mil tidak kuasa membuat kak Rian dan aku melupakan kasih
sayang diantara kami. Setelah sembilan tahun berlalu , keluarga Herman akhirnya
kembali ke Jakarta. Kak Rian yang telah menginjak usia dewasa dan bertunangan
dengan seorang seniman yang bernama ‘Dinda’ , tidak sengaja bertemu lagi
denganku disebuah Hotel.
Aku kini
bekerja disebuah Hotel milik sahabat kak Rian ,Sammy. Pertemuan kak Rian dan
aku ternyata mendatangkan kesulitan dikemudian hari. Sebab kami akhirnya
menyadari bahwa cinta kasih diantara kami tidak lagi merupakan kasih kakak
beradik melainkan telah berubah menjadi cinta antara pria & wanita. Namun
kami juga menyadari tidak mudah mewujudkan hal tersebut sebab kak Rian telah
mempunyai tunangan.
Tidak hanya
itu, aku pun dicintai oleh Sammy. Akhirnya untuk menyelesaikan cinta segiempat
ini kak Rian mengambil keputusan untuk menjauhiku dan memulai bisnis baru
dibidang kesenian bersama Dinda tunangannya.Tetapi aku tidak setuju kakakku
mengambil keputusan ini karena aku tahu kakak sudah tidak bahagia bersama Dinda
karena kakak hanya mencintaiku. Akupun mempunyai rencana dengan kak Rian untuk
kabur ke luar kota tetapi kakak berkata tidak mau karena dia tidak kuat untuk
hidup susah, aku tidak menyangka kalau kakakku adalah cowok yang matrek juga ,
akhirnya dengan mantap aku mengambil keputusan untuk pergi ke luar Jakarta tetapi
hanya sendirian, tiba-tiba sewaktu aku mau menaiki bis,
aku mendengar
ada seseorang yang memanggil namaku untuk tidak pergi saat aku menoleh ternyata
yang memanggilku adalah kak Rian betapa senangnya hatiku karena kak Rian masih
perduli denganku. Dia berkata ayah dan ibunya mau menerimaku sebagai pacar kak
Rian…..Aku bahagia sekali karena akhir kisah ini Happy Ending….oh ya,ada yang
terlupa Sammy dan Mitha akhirnya jadian juga dan Dinda saat ini sudah menjadi
seniman yang sukses……
BAB III
KESIMPULAN
Pengajaran bahasa memiliki empat keterampilan yakni
keterampilan mendengarkan atau menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan
membaca dan keterampilan menulis. Sebagai perbandingan, Tim Penulis Universitas
Terbuka (lihat, 2008: 3.7-3.8), menyebutkan enam aspek, dalam komponen komponen
kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar, yaitu mendengarkan,
berbicara, membaca, menulis, kebahasaan, apresiasi bahasa dan sastra Indonesia.
Dalam dunia pendidikan dikenal
istilah pengajaran dan pembelajaran. Kedua istilah tersebut sering ditafsirkan
dengan makna yang sama. Sebenarnya, kedua istilah tersebut berbeda. Istilah
pengajaran lebih berorientasi kepada guru sebagai pengajar, sedangkan istilah
pembelajaran cenderung berorientasi kepada siswa sebagai pembelajar.
Menulis cerpen merupakan salah satu
bagian dari pembelajaran sastra dan mata pelajaran pelajaran bahasa dan sastra
Indonesia. Esensi cerita pendek yang baik bukan soal pendek atau panjangnya,
namun bagaimana menuangkan gagasan ke dalam cerita lewat suatu pengisahan
peristiwa kecil kemanusiaan yang menyentuh, mengharukan, menghimbau pembaca
mencicipi setetes madu atau racun pahit kemanusiaan. Daya pikat sebuah cerpen
tidak mungkin muncul tanpa kreatifitas yang tinggi dalam menyiasati
teknik-teknik menulis.
DAFTAR PUSTAKA
Gani,
Rizanur. 2007 .Pengajaran Sastra
Indonesia: respons dan analisis. Universitas
Michigan: Dian Dinamika Press
tt.
“Pengertian Menulis Kreatif”. http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2120500-pengertian-menulis-kreatif/#ixzz2MKVHYhC9.
diunduh pada 01 Maret 2013
tt.”Menulis Kreatif :
Menceritakan kembali cerita.” http://yandiy.wordpress.com/2010/05/19/menceritakan-kembali-cerita-yang-dibaca/.
diunduh pada 01 Maret 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar