Kamis, 04 April 2013

pengajaran sastra menulis kreatif



KATA PENGANTAR

            Puji syukur penulis menghanturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya lah, penulis dapat menyusun dan menyelesaikan makalah Pengajaran Sastra ini tepat pada waktunya.
            Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Agus Heru,M.Pd.  selaku dosen pengasuh mata kuliah  Pengajaran Sastra   yang telah  membantu dalam melancarkan tugas kelompok ini. Serta teman – teman yang  telah  membantu  dan  memberikan masukan kepada penulis dalam penyusunan makalah  ini.
            Penulis  menyadari  bahwa dalam  penyususnan laporan  ini, masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan  saran yang  membangun dan  bermanfaat dari para pembaca agar dalam pembuatan rangkuman  ini akan dapat lebih sempurna dan baik lagi.

Palembang,   February  2013

                                     Penulis                                   





DAFTAR ISI

                                                                                                            Halaman
Kata Pengantar................................................................................... i
Daftar Isi.............................................................................................. ii
BAB I : PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang.................................................................... iii
1.2  Rumusan Masalah............................................................... iii
BAB II : PEMBAHASAN
2.1 Mempelajari Pengajaran Drama.......................................... 1
2.2 Mempelajari Penulisan Kreatif............................................ 4
BAB III : KESIMPULAN ................................................................  8
DAFTAR PUSTAKA








BAB I
PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang
Pengajaran drama dari mata pelajaran Bahasa Indonesia itu akan menyentuh aspek seni peran juga seni sastra di samping aspek sosial dimana terjadi interaksi bicara antara seorang siswa (pemain) dengan pemain lainnya. Hal ini menunjukkan suatu wujud fungsi sosial yang terjadi dalam dialog pada pengajaran mata pelajaran ini. Dalam skala pertunjukan drama yang lebih luas terkait fungsi sosial itu, Putu Wijaya (2002:172) mengungkapkan, bahwa suatu pertunjukan itu menyesuaikan dengan lingkungan atau konteksnya; hubungan peran (perilaku) seniman di panggung dan di dalam keseharian. Dalam konteks siswa, hubungan sosial yang terbangun adalah komunikasi dan interaksi antar siswa dan interaksi dengan gurunya.

1.2     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana mempelajari Pengajaran Drama?
2.      Bagaimana mempelajari penulisan kreatif?








BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Mempelajari Pengajaran Drama
Pengajaran bahasa memiliki empat keterampilan yakni keterampilan mendengarkan atau menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis. Sebagai perbandingan, Tim Penulis Universitas Terbuka (lihat, 2008: 3.7-3.8), menyebutkan enam aspek, dalam komponen komponen kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, kebahasaan, apresiasi bahasa dan sastra Indonesia.
Pada aspek berbicara dijelaskan oleh Tim Penulis tersebut, bahwa kompetensi berbicara adalah kemampuan mengungkapkan gagasan dan perasaan, menyampaikan sambutan, berdialog, menyampaikan pesan, bertukar pengalaman, menjelaskan, mendeskripsikan dan bermain peran. Dilihat dari aspek-aspek di atas, dapat dikemukakan di sini, bahwa keterampilan berbicara sangat bertalian secara praktis dengan pengajaran drama, dimana pada drama terjalin aktivitas berbicara antar pemain (siswa) dalam suatu dialog praktis verbal. Dengan demikian, maka pengajaran drama sangat dibutuhkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, terutama demi kepentingan pengembangan keterampilan berbicara. Pengajaran drama dalam penelitian ini bersumber dari pelajaran Bahasa Indonesia, pada aspek keterampilan berbicara dengan standar kompetensi yang ingin dicapai yaitu mengungkapkan pikiran dan perasaan secara lisan dalam diskusi dan bermain drama, sedangkan kompetensi dasarnya, yaitu memerankan tokoh drama dengan lafal, intonasi dan ekspresi yang tepat. Hal ini sesuai kurikulum tahun 2006, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, nomor 22 tahun 2006, tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah (BSNP, 2006:92).
Pengajaran drama yang dimaksudkan tersebut, lebih mengarah pada materi pengajaran yang menitik beratkan pencapaian kemampuan atau keterampilan berbicara pada teknik-teknik lafal, intonasi dan ekspresi yang dilakukan atau dilakonkan dalam suatu dialog. Mengingat dialog adalah aktivitas berbicara, maka dialog dapat merupakan sarana aktivitas bagi latihan keterampilan berbicara siswa dalam mata pelajaran pelajaran Bahasa Indonesia.
 Pengajaran drama dari mata pelajaran Bahasa Indonesia itu akan menyentuh aspek seni peran juga seni sastra di samping aspek sosial dimana terjadi interaksi bicara antara seorang siswa (pemain) dengan pemain lainnya. Hal ini menunjukkan suatu wujud fungsi sosial yang terjadi dalam dialog pada pengajaran mata pelajaran ini. Dalam skala pertunjukan drama yang lebih luas terkait fungsi sosial itu,
Putu Wijaya (2002:172) mengungkapkan, bahwa suatu pertunjukan itu menyesuaikan dengan lingkungan atau konteksnya; hubungan peran (perilaku) seniman di panggung dan di dalam keseharian. Dalam konteks siswa, hubungan sosial yang terbangun adalah komunikasi dan interaksi antar siswa dan interaksi dengan gurunya. Komunikasi dalam interkasi itu, menggunakan kemampuan-kemampuan berbahasa, dalam hal ini keterampilan berbicara, yang dapat dilatih melalui pengajaran drama.
Dengan demikian drama tidak hanya dipandang sebagai suatu pertunjukan akan tetapi dapat dimanfaatkan untuk lingkungan pengajaran Bahasa Indonesia, maupun pengajaran mata pelajaran lain, tentunya. Kreativitas guru memanfaatkan drama untuk pengajaran IPS misalnya, akan sangat menarik. Konsep-konsep dasar mengajarkan bahasa dalam model keterampilan berbicara, diketengahkan Iskandarwassid dan Sunendar (2008:286), sebagai berikut:
a) berbicara dan menyimak adalah dua kegiatan resiprokal;
b) berbicara adalah proses berkomunikasi individu;
c) berbicara adalah ekspresi kreatif;
d) berbicara adalah tingkah laku;
e) berbicara dipengaruhi kekayaan pengalaman;
f) berbicara merupakan sarana memperluas cakrawala;
g) berbicara adalah pancaran pribadi.
Hal yang sangat ditekankan dalam komunikasi verbal adalah keterampilan berbicara dalam interaksi antar siswa yang kelak dimanfaatkan dalam pergaulannya. Karena itu siswa membutuhkan keterampilan berbicara sejak awal. Seseorang dikatakan memiliki keterampilan berbicara bila yang bersangkutan terampil memilih bunyi-bunyi bahasa (berupa kata, kalimat, tekanan dan nada) secara tepat serta memformulasikannya secara tepat pula guna menyampaikan pikiran, perasaan, gagasan, fakta, perbuatan dalam konteks komunikasi (Cahyani,2007:5).
Berbicara sebagai ekspresi kreatif dan keterampilan memilih bunyi-bunyi bahasa yang disebutkan pada kedua pendapat di atas lebih tertuju pada lafal dan intonasi bicara dalam suatu dialog yang dapat diwujudkan dalam pengajaran drama. Selanjutnya efektifitas pengajaran drama demi tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia akan ditentukan pada kemampuan menggarapnya melalui latihan-latihan dengan mertode drill yang diupayakan ke arah latihan-latihan berbicara yang secara teknik dilakukan pada lafal, intonasi dan ekspresi. Drama yang dipilih adalah drama anak, sesuai konteks sastra anak, yang disesuaikan dengan perkembangan intelektual dan emosional anak (Kurniawan, 2009:5).

2.1.1 Contoh Kegiatan Pengajaran Drama
            Pembahasan tentang pengajaran drama akan berkaitan dengan ihwal drama, drama anak dan pembelajaran drama di SD. Ihwal drama mengemukakan pengertian drama, drama sebagai karya seni dan tujuan apresiatif sastra melalui drama. Drama anak akan menguraikan tentang sastra anak dan batasan tentang drama anak. Naskah yang dipilih adalah nasakah drama anak yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan pemahaman anak, memiliki hubungan dengan dunia anak (dunia bermain dan aktivitas fisik) dan disesuaikan tingkat kematangan pasikologis anak.
Sedangkan pembelajaran drama di SD mengemukakan kurikulum yang terkait dengan pembelajaran drama, kompetensi dasar dan standar kompetensi pengajaran drama dan bentuk pembelajaran drama. Dalam aktivitas pengajaran drama, sekurang-kurangnya terkait tiga kecakapan yang dibutuhkan siswa yakni kecakapan verbal (bahasa), kecakapan estetik (seni), kecakapan sosial (terjadi dalam proses interaksi dramatik dalam melakon). Kecakapan verbal sangat penting bagi kemampuan atau keterampilan bahasa anak. Melalui dialog-dialog yang terdapat dalam naskah drama, anak belajar mengenal kata dan kalimat percakapan, yang harus diucapkannya dengan lafal, intonasi dan ekspresi yang tepat.
Dalam kecakapan estetis, siswa mengenal sentuhan-sentuhan kehalusan, keseimbangan, kesantunan maupun “rasa” yang melatar belakangi kecakapan berkeindahan baik dalam dialog-dialog maupun dalam akting yang diperagakannya. Kecakapan sosial; dalam drama terdapat demikian banyak interaksi, baik interaksi melalui dialog antar pemain maupun respon fisik dalam bentuk akting. Interaksi antar personal maunpun intern personal yang terjadi dalam diri pemain, melahirkan bentuk-bentuk kecakapan sosial dalam situasi sosial yang disengaja sebagai suatu kegiatan pengajaran.

2.2 Mempelajari Penulisan Kreatif
Menulis keratif pada hakikatnya adalah menafsirkan kehidupan. Melalui karyanya penulis ingin mengkomunikasikan sesuatu kepada pembaca. Karya kreatif merupakan interpretasi evaluatif yang  dilakukan penulis terhadap kehidupan, yang kemudian direfleksikan melalui medium bahasa pilihan masing-masing. Jadi, sumber penciptaan karya kreatif tidak lain adalah kehidupan kita dalam keseluruhannya.

            2.2.1 Langkah-langkah menceritakan kembali cerita :
1) membaca secara keseluruhan isi cerita
2) mencatat tokoh dan penokohan dalam cerita
3) mencatat latar atau setting cerita
4) mencatat alur cerita
5) mencatat gagasan pokok cerita
2.2.2 Menceritakan Kembali Isi Cerita
1) Mencatat gagasan pokok cerita
2) Mengetahui kerangka cerita
3) Menggunakan bahasa sendiri ketika menceritakan kembali isi cerita

       2.2.3 Menceritakan Kembali Isi Cerita (CERPEN)
Cerpen sebagai salah satu hasil karya sastra yang memiliki unsur intrinsik dan ekstrinsik yang terkandung di dalamnya. Unsur instrinsik merupakan unsur yang membangun karya sastra yang berasal atau terdapat dalam karya sastra itu sendiri. unsur intrinsik karya sastra meliputi tema, amanat, alur, latar, penokohan, sudut pandang, serta gaya bahasa.
Adapun unsur ekstrinsik merupakan unsur pembentuk karya sastra yang berasl dari luar karya sastra. Unsur ekstrinsik meliputi latar belakang budaya dan pendidikan pengarang , adat istiadat daerah, dan sebagainya. Kedua unsur ini bergabung menjadi satu dalam membangun sebuah cerpen. Dalam menceritakan kembali secara lisan isi cerpen yang perna kalian baca atau kalian dengarkan, diperlukan kejelian dan kecermatan terhadap urutan dan motif peristiwa yang terdapat dalam cerpen serta mengetahui tokoh yang terlibat, serta latar tempat, waktu, dan suasana yang melatarbelakangi peristiwa tersebut.
Pahami cerpen “ cinta yang tak ada habis-habisnya” berikut
Judul cerpen : Cinta yang Tak Ada habis-habisnya
Namaku Arini, aku mempunyai kakak yang bernama ‘Rian’ kami dibesarkan sebagai kakak beradik selama 13 tahun ,sampai munculnya sebuah fakta yang menyebutkan bahwa aku bukan adik kandung kak Rian melainkan anak orang lain yang tertukar ketika masih bayi. Peristiwa tersebut terjadi gara-gara kak Rian yang masih kecil secara tidak sengaja memainkan label nama dalam ruang bayi di rumah sakit. Akibatnya aku yang seharusnya berada di keluarga Mahmud, jadi dipelihara oleh keluarga Herman yang merupakan keluarga berada. Sedangkan adik kandung perempuan kak Rian, ‘Mitha’ dipelihara oleh keluarga Mahmud yang miskin. Kekeliruan tersebut tidak sengaja terungkap ketika aku mengalami kecelakaan pada usia 13 tahun. Begitu terungkap , kehidupan aku dan Mitha berubah total.
Mitha yang akhirnya kembali kepelukan keluarga Herman dan kak Rian pun dibawa oleh ayah-ibunya ke Perancis. Sedangkan aku ditinggalkan di Jakarta pun terpaksa membanting tulang untuk menyambung hidup. Walaupun begitu waktu dan jarak ribuan mil tidak kuasa membuat kak Rian dan aku melupakan kasih sayang diantara kami. Setelah sembilan tahun berlalu , keluarga Herman akhirnya kembali ke Jakarta. Kak Rian yang telah menginjak usia dewasa dan bertunangan dengan seorang seniman yang bernama ‘Dinda’ , tidak sengaja bertemu lagi denganku disebuah Hotel.
Aku kini bekerja disebuah Hotel milik sahabat kak Rian ,Sammy. Pertemuan kak Rian dan aku ternyata mendatangkan kesulitan dikemudian hari. Sebab kami akhirnya menyadari bahwa cinta kasih diantara kami tidak lagi merupakan kasih kakak beradik melainkan telah berubah menjadi cinta antara pria & wanita. Namun kami juga menyadari tidak mudah mewujudkan hal tersebut sebab kak Rian telah mempunyai tunangan.
Tidak hanya itu, aku pun dicintai oleh Sammy. Akhirnya untuk menyelesaikan cinta segiempat ini kak Rian mengambil keputusan untuk menjauhiku dan memulai bisnis baru dibidang kesenian bersama Dinda tunangannya.Tetapi aku tidak setuju kakakku mengambil keputusan ini karena aku tahu kakak sudah tidak bahagia bersama Dinda karena kakak hanya mencintaiku. Akupun mempunyai rencana dengan kak Rian untuk kabur ke luar kota tetapi kakak berkata tidak mau karena dia tidak kuat untuk hidup susah, aku tidak menyangka kalau kakakku adalah cowok yang matrek juga , akhirnya dengan mantap aku mengambil keputusan untuk pergi ke luar Jakarta tetapi hanya sendirian, tiba-tiba sewaktu aku mau menaiki bis,
aku mendengar ada seseorang yang memanggil namaku untuk tidak pergi saat aku menoleh ternyata yang memanggilku adalah kak Rian betapa senangnya hatiku karena kak Rian masih perduli denganku. Dia berkata ayah dan ibunya mau menerimaku sebagai pacar kak Rian…..Aku bahagia sekali karena akhir kisah ini Happy Ending….oh ya,ada yang terlupa Sammy dan Mitha akhirnya jadian juga dan Dinda saat ini sudah menjadi seniman yang sukses……













BAB III
KESIMPULAN
Pengajaran bahasa memiliki empat keterampilan yakni keterampilan mendengarkan atau menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis. Sebagai perbandingan, Tim Penulis Universitas Terbuka (lihat, 2008: 3.7-3.8), menyebutkan enam aspek, dalam komponen komponen kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, kebahasaan, apresiasi bahasa dan sastra Indonesia.
Dalam dunia pendidikan dikenal istilah pengajaran dan pembelajaran. Kedua istilah tersebut sering ditafsirkan dengan makna yang sama. Sebenarnya, kedua istilah tersebut berbeda. Istilah pengajaran lebih berorientasi kepada guru sebagai pengajar, sedangkan istilah pembelajaran cenderung berorientasi kepada siswa sebagai pembelajar.
Menulis cerpen merupakan salah satu bagian dari pembelajaran sastra dan mata pelajaran pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Esensi cerita pendek yang baik bukan soal pendek atau panjangnya, namun bagaimana menuangkan gagasan ke dalam cerita lewat suatu pengisahan peristiwa kecil kemanusiaan yang menyentuh, mengharukan, menghimbau pembaca mencicipi setetes madu atau racun pahit kemanusiaan. Daya pikat sebuah cerpen tidak mungkin muncul tanpa kreatifitas yang tinggi dalam menyiasati teknik-teknik menulis.






DAFTAR PUSTAKA

Gani, Rizanur. 2007 .Pengajaran Sastra Indonesia: respons dan analisis.    Universitas Michigan: Dian Dinamika Press
tt. “Pengertian Menulis Kreatif”. http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2120500-pengertian-menulis-kreatif/#ixzz2MKVHYhC9. diunduh pada 01 Maret 2013
tt.”Menulis Kreatif : Menceritakan kembali cerita.”               http://yandiy.wordpress.com/2010/05/19/menceritakan-kembali-cerita-yang-dibaca/. diunduh pada 01 Maret  2013







Tidak ada komentar:

Posting Komentar